Kajian M Nur Kholis Setiawan Soal Harta dan Jabatan Menjadi Jalan Sepiritual
Lampung- Di tengah kehidupan modern yang sarat persaingan, orientasi hidup manusia kerap bergeser pada pencapaian materi dan status sosial. Jabatan dan harta sering diposisikan sebagai tolok ukur keberhasilan, tanpa disertai pemahaman mendalam mengenai makna di baliknya. Fenomena inilah yang menjadi sorotan M. Nur Kholis Setiawan dalam kajian Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah.
Melalui kajian tersebut, M. Nur Kholis Setiawan mengajak umat untuk menata ulang cara pandang terhadap dunia. Menurutnya, dunia tidak seharusnya diperlakukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana pembelajaran spiritual yang mengantarkan manusia pada kedekatan dengan Allah.
Al-Akwan: Memahami Dunia sebagai Ciptaan
Dalam penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan menguraikan konsep Al-Akwan, yakni segala sesuatu selain Allah. Seluruh aspek kehidupan dunia, termasuk kekayaan, jabatan, dan kedudukan sosial, berada dalam lingkup ciptaan tersebut. Secara lahiriah, dunia tampak menarik dan menjanjikan, namun memiliki dimensi batiniah yang sering kali tidak disadari.
Ia menjelaskan bahwa keindahan dunia pada tataran zohir dapat memperdaya manusia jika tidak disikapi dengan kewaspadaan spiritual. Dalam kajiannya, Prof. Nur Kholis menegaskan, “Segala sesuatu yang bersifat ciptaan atau segala ciptaan itu pada hakikatnya tidak eksis atau noneksisten. Allahlah yang kemudian membuat ciptaan itu eksis.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa eksistensi dunia sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah, sehingga tidak layak dijadikan sandaran utama dalam menjalani kehidupan.
Nafsu dan Kalbu dalam Memandang Dunia
M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa keterikatan berlebihan pada dunia berakar dari dominasi nafsu. Nafsu selalu mengarahkan manusia pada kenikmatan, kemewahan, dan kenyamanan yang bersifat sementara. Ketika nafsu memimpin cara pandang, manusia berisiko terjebak dalam kesesatan dan kerusakan moral.
Sebaliknya, kalbu yang bersih memiliki kemampuan untuk menembus lapisan luar dunia. Dengan kalbu, seseorang mampu menangkap ibrah dan menyadari bahwa dunia bersifat fana. Pandangan ini membuat manusia tidak lagi memuja dunia, melainkan menjadikannya sebagai sarana pengabdian kepada Allah.
Jabatan dan Harta Bukan Tujuan Akhir
Salah satu penekanan utama dalam kajian M. Nur Kholis Setiawan adalah penempatan harta dan jabatan secara proporsional. Ia menegaskan bahwa kebutuhan terhadap aspek duniawi adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Namun, kekeliruan terjadi ketika harta dan jabatan dijadikan tujuan hidup.
Ia menyampaikan dengan tegas, “Kita hidup di dunia tentu membutuhkan hal-hal yang sifatnya duniawi, entah itu harta, entah itu jabatan… akan tetapi itu bukan tujuan. Itu hanyalah piranti atau perangkat kita bisa mendekatkan diri kepada Allah.”
Harta, menurutnya, dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat sosial dan menolong sesama. Jabatan pun memiliki fungsi strategis sebagai sarana menjalankan amanah, menegakkan aturan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat apabila dijalankan sesuai standar operasional yang benar.
Muhasabah sebagai Pengendali Arah Hidup
Agar harta dan jabatan tidak berubah menjadi sumber kesombongan atau kelalaian, M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya muhasabah diri. Dengan introspeksi yang berkelanjutan, manusia dapat memastikan bahwa niat tetap lurus dan orientasi hidup tidak bergeser dari tujuan spiritual.
Ia kembali menegaskan, “Ketika yang dominan di dalam diri kita adalah kalbu bukan lagi nafsu, maka kita bisa menggunakan apapun yang sifatnya duniawi tadi sebagai piranti kita makin mendekatkan diri kepada Allah.”
Dalam kondisi ini, seluruh fasilitas duniawi justru bertransformasi menjadi wasilah yang menguatkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Menyikapi Keinginan dengan Sikap Seimbang
Menutup kajiannya, M. Nur Kholis Setiawan mengajak umat untuk bersikap proporsional dalam menyikapi keinginan hidup. Ketika keinginan terwujud, rasa syukur harus menjadi pendorong untuk semakin taat. Sebaliknya, ketika keinginan tidak tercapai, hal tersebut perlu dipahami sebagai bentuk kasih sayang Allah yang menjaga manusia dari potensi kelalaian.
Dengan pemahaman ini, kegagalan tidak lagi melahirkan keputusasaan, melainkan ketenangan batin karena keyakinan bahwa rencana Allah selalu lebih baik daripada keinginan manusia(red)
Post a Comment